Menengok Sejarah Baju Koko di Indonesia

Sejarah baju koko menjadi sebuah pembelajaran yang menarik untuk disimak. Baju yang identik dengan pakaian muslim pria ini ternyata mempunyai sejarah panjang. Anda sekalian para pria dan beragama Islam tentu memiliki baju koko di rumah, bukan? Baju tersebut biasa dikenakan saat beribadah, seperti sholat baik di masjid maupun di rumah. Namun dalam perkembangannya, baju koko sudah biasa dikenakan dalam berbagai acara atau kegiatan. Mulai dari beribadah, jalan-jalan, liburan, bahkan hingga bekerja. Hal ini membuktikkan bahwa identitas seorang muslim di negeri ini memang begitu kental dan bisa dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari mayoritas penduduk di Indonesia yang beragama Islam.

Lalu, bagaimana sejarah baju koko yang dapat diambil pengetahuannya? Berikut akan dijabarkan secara singkat untuk bisa Anda baca dan pelajari.

Asal-usul baju koko

Ada seorang pengamat budaya Indonesia yang keturunan Tionghoa atau sekarang disebut Tiongkok yang bernama David Kwa. Dia mengatakan bahwa baju koko yang sekarang dikenal di Indonesia ini merupakan diadopsi dari baju tradisional masyarakat Tiongkok bernama Tui Khim. Baju tersebut memang khusus dipakai oleh para pria Tiongkok. Cirinya, yaitu berlengan panjang, memiliki kerah pendek atau malahan tidak ada sama sekali, dan terpat beberapa kancing di bagian depannya. Ciri semacam itu mirip dengan baju koko yang banyak dipakai pria muslim di Indonesia.

Pada masa penjajahan Belanda, baju Tui Khim tersebut akhirnya juga dipakai oleh masyarakat pribumi dan menjadi semacam baju sebagai identitas daerah. Sebagai contoh, masyarakat suku Betawi menyebutnya sebagai baju Tikim, persis seperti baju Tui Khim. Biasanya, baju Tikim dipadupadankan dengan celana panjang batik berbahan katun. Pakaian tersebut sudah mendarah daging dan diwariskan secara turun temurun hingga sekarang.

Lalu, mengapa dinamakan koko?

Seorang budayawan Indonesia bernama Remy Sylado berpendapat bahwa baju Tui Khim biasa dikenakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Sementara itu, masyarakat pribudi tidak sedikit yang memanggil mereka dengan sebutan ‘koh’ atau ‘engkoh’. Jika disebut berulang-ulang menjadi koh-koh atau engkoh-engkoh. Ditambah akulturasi budaya yang terjadi. Akhirnya, baju tersebut menjadi baju koko seperti yang sekarang. Itulah sejarah baju koko yang perlu Anda ketahui. Konveksi Surabaya

Write a Comment

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
Open chat
1
Selamat Datang di Vido Garment,
Ada yang bisa dibantu ?